Kisah Kehidupan dan Bekerja Anak Kost Saat WFH
Work From Home (WFH) mungkin kata tersebut sudah tidak asing di telinga kita semenjak pandemi virus korona ini. WFH mungkin menguntungkan bagi sebagian orang karena banyak waktu yang bisa diluangkan untuk keluarga. Tetapi, bagaimana dengan orang yang merantau dan tetap WFH?.
Saya sekarang bekerja untuk project di Bank Mega, saya berasal dari perusahaan IT Consultan yaitu PT. Xsis Mitra Utama kantornya berada di Kuningan, Jakarta Selatan. Untuk info lebih lanjut tentang PT. Xsis Mitra Utama silakan kunjungi websitenya di www.xsis.co.id. Semenjak merebaknya virus korona di Indonesia sejak bulan Maret lalu banyak perusahaan di Indonesia menerapkan sistem WFH bagi karyawan yang tugasnya dapat diremote jarak jauh termasuk Bank Mega tempat saya berada di project sekarang. Pada awalnya menerapkan sistem shift bagi karyawan maupun vendor yang bekerja akan tetapi semenjak banyaknya kasus di Indonesia akibat virus korona, Bank Mega memberlakukan WFH yang pada saat itu diberlakukan untuk semua sektor industri dan anjuran dari pemerintah dalam masa Pembatasan Secara Besar Besaran (PSBB). Pada tanggal 26 Mei 2020 setelah libur lebaran, Bank Mega sudah mulai menganjurkan karyawannya untuk masuk kantor akan tetapi tidak semua dan hanya 50% saja. Tentu dalam hal ini bagi developer dari vendor tidak masuk kantor dikarenakan ada pembatasan jumlah yang masuk kantor tersebut. Bagi sebagian orang ini menguntungkan karena masih bisa bekerja di rumah dan bertemu keluarga, akan tetapi bagaimana tanggapan WFH ini bagi karyawan yang merantau dan tidak bisa pulang kampung akibat pandemi ini?.
Banyak orang yang berfikir mengapa pada saat WFH seperti ini tidak dimanfaatkan untuk pulang kampung saja yang dimana bisa bertemu keluarga sekaligus bekerja?. Bagi saya sebagai orang yang merantau tidak karena hal tersebut tidak menjamin bagi keselamatan bagi anggota keluarga kita. "Apabila menerapakan protokol kesehatan kan tetap aman saja untuk pulang kampung". Banyak yang berkata seperti itu juga yang dimana pada pendapat saya sendiri mungkinkah kita tidak terpapar sedikit pun meskipun kita telah menggunakan protokol kesehatan?. Mungkin dari kita yang berusia 20-an dengan sistem imunitas lebih baik tidak akan terlalu berpengaruh tetapi bagaimana dengan orang tua kita yang berusia dua kali dari usia kita sekarang? Amankah?. Lalu bagaimana dengan kesehatan mental kita saat WFH terutama untuk orang merantau seperti saya.
Awal WFH bagi kita menyenangkan karena kita tidak perlu datang ke kantor pagi-pagi dan tidak perlu bersiap-siap pagi-pagi. Bagi yang malas mandi tentu diuntungkan karena tidak perlu mandi pagi-pagi untuk berangkat ke kantor. Hal tersebut terlihat menyenangkan tapi itu hanya bertahan sampai lebaran saja. Sangat sedih dimana momen lebaran tidak dapat dirayakan dengan keluarga tercinta. Tanggal 5 Juni 2020 Jakarta mulai ada pelonggarana PSBB dan masuk ke New Normal atau PSBB transisi. Awalnya mengira akan masuk kantor dan bertemu kembali dengan teman-teman disana. Namun, hal tersebut hanya menjadi angan-angan saja karena kebijakan kantor hanya membolehkan 50% karyawan saja yang masuk dan tidak menerapkan sistem shift. Awalnya bisa menerima akan tetapi semakin lama semakin terasa jenuh dan kecemasan yang berlebihan pada sesuatu hal. Hal tersebut tidak terjadi ketika sedang bekerja karena ketika bekerja pikiran akan fokus ke pekerjaan saja. Diluar hari kerja atau weekend kecemasan akan hal tersebut datang. Sehingga diri saya sendiri terkadang berfikir apakah mental saya masih sehat selama WFH ini?. Mungkin hal tersebut dikarenakan faktor yang jarang bertemu dan mengobrol dengan orang meskipun setiap hari saya selalu menelpon orang tua saya agar tidak kesepian dikosan. Tetapi apa yang membuat saya bertahan dalam situasi ini? Tentunya terus mendapatkan support dari orang tua dan selalu ingat kepada Sang Pencipta dan selalu mencoba berfikir positif bahwa kita akan dapat melalui situasi ini. Dan selalu berdoa agar pandemi ini segera berakhir.
Comments
Post a Comment